Penulis: Rahma Wulandari

Trainer Kontributor: Norman Yachya

Upaya setiap ibu untuk menyediakan pangan sehat untuk keluarga datang dengan banyak cara. Salah satunya, Desi Natalia asal Bengkayang, Kalimantan Barat yang membudidayakan lele untuk konsumsi keluarga. Tahun 2019, Desi mulai mencoba budidaya lele di samping rumahnya. Dengan niat baik untuk menyediakan lele yang bersih dan sehat untuk konsumsi keluarga, Desi memilih untuk hanya menggunakan pakan lele yang dibeli di pasaran ditambah dengan cincangan sisasayuran, seperti kangkung, sawi dan daun kelor. Setelah tiga bulan, hasil panen dari kolam kecil pertama berisi 100 bibit lele itu dirasa terlalu banyak untuk keluarga dan akhirnya ia jual ke teman-temannya. “Ternyata banyak yang mau beli lele saya. Mereka juga bilang, lele dari kolam saya tidak selendir dan seamis lele yang ada di pasaran. Rasa dagingnya juga lebih manis dan enak,” kata Desi bangga.

Desi menyadari penggantian pakan juga berpengaruh pada hasil panen. “Bibit lele yang diberi pakan pabrikan lebih cepat tumbuh karena nutrisinya lebih lengkap. Jika diselingi dengan pakan sayuran, kadang panen bisa mundur sekitar satu bulan, tergantung kualitas bibit juga. Saya tetap menggunakan pakan sayuran untuk mengurangi biaya pakan dan memastikan kualitas lele tetap bersih dan sehat,” kata Desi.

Desember 2002 lalu, Desi berkesempatan mengikuti kelas Pembekalan Kewirausahaan Tahap Awal Perorangan dari BBPPK & PKK Lembang. Di awal, ia mengajukan proposal untuk beternak ayam joper. Namun, setelah dijalankan, ternyata ia kesulitan mendapatkan bibit ayam joper yang harus dibeli dari Jawa dan menggantinya dengan ayam putih. Di sisi lain, ia masih harus belajar banyak tentang sistem peternakan ayam. “Sambil terus belajar, saya mengembangkan kolam lele yang sudah lebih dulu ada,” kata Desi yang kini sudah memiliki tiga kolam lele dan 2 keramba lele masing-masing berisi 500 ekor.

Seusai pelatihan, Desi langsung membereskan pencatatan keuangan usaha. “Sebelumnya saya tidak punya buku kas, karena merasa ini hanya untuk konsumsi keluarga. Sekarang, semua pengeluaran dan pendapatan dari budidaya lele sudah harus dihitung karena sudah menjadi usaha,” kisah Desi sambil tergelak.

Sebelum ikut pelatihan, Desi mengakui ia belum paham cara yang efektif untuk memasarkan hasil ternak lele. Ia lalu mulai menerapkan ilmu pemasaran dari pelatihan dengan menawarkan lele lewat WhatsApp grup dan Facebook pribadi. “Saya juga bergabung dengan grup Facebook Informasi Kabupaten Bengkayang dan menawarkan produk di sana. Banyak pesanan dari grup itu,” ujar Desi yang setiap panen lele sekitar 100kg selalu habis terjual.

Desi juga menawarkan nilai tambah untuk pembelinya. Di Bengkayang, harga rata-rata lele Rp25ribu per kilogram. Namun, ia berani menjual dengan harga lebih tinggi, Rp30ribu per kilogram. “Setiap pembelian di atas 2 kg akan mendapatkan gratis pengiriman. Saya memberikan layanan tambahan dengan biaya bagi pembeli yang minta ikannya dibersihkan,” kata Desi yang kini juga mulai membangun satu kolam untuk budidaya ikan nila sambil terus mencoba memperbaiki sistem peternakan ayam putih.

Di Bengkayang, lele umum diolah sebagai lauk, seperti lele goreng, atau diawetkan menjadi salai (ikan asap). Salai ikan lele biasanya ditumis atau diolah dengan bumbu asam pedas. Selain perorangan, pelanggan Desi juga berasal dari warung pecel lele dan katering.

Ia selalu ingat pesan trainer saat di kelas. “Di antara sekian banyak jenis usaha serupa, kita harus bisa membuat usaha kita tampil seunik mungkin untuk menarik perhatian calon pembeli. Di Bengkayang, banyak yang budidaya lele, tapi masih menggunakan pakan dengan kotoran hasil ternak ayam. Pesan itu membuat saya selalu yakin, walau harga lele saya lebih mahal, kualitas yang baik akan tetap bisa bersaing di pasaran dan terus menarik pelanggan baru,” kata Desi tegas.