Penulis: Rahma Wulandari

Trainer kontributor: Sarie Wahyuni

Tren busana muslim di tanah air yang terus berkembang pesat dimanfaatkan oleh Masrukhin. Bersama sang istri yang cukup jeli memerhatikan tren mode jilbab di pasaran, ia memberanikan diri membuka toko grosir jilbab di Mojokerto pada tahun 2016. Seiring waktu, sang istri rajin riset model jilbab yang laris di toko online dan menemukan ternyata bahannya mudah kusut. Lalu, muncullah ide untuk memproduksi jilbab sendiri.

Masrukhin dan istri memanfaatkan ruangan berukuran 5×4,5 m di depan rumahnya sebagai toko sekaligus studio jahit. Pasangan ini jeli melihat peluang dan berusaha memperbaiki kualitas produk yang ada di pasaran. “Kami mulai produksi jilbab tahun 2019 dengan membeli bahan baku dari Surabaya dan Bandung. Saya mencari bahan jilbab rayon dengan grade yang lebih baik dan tidak mudah kusut. Ternyata peminat jilbab buatan kami cukup banyak,” kisahnya bersemangat.

Meski sempat mengalami kendala bahan baku, usaha konveksi jilbab pasangan ini terus berjalan dan mencapai omzet awal rata-rata sekitar Rp1,5 juta per hari. Pada Agustus 2020, Masrukhin berkesempatan mengikuti kelas Pembekalan Kewirausahaan Tahap Awal Perorangan dari BBPPK & PKK Lembang. Ia menerapkan saran-saran yang didapatkan dari trainer sedikit demi sedikit sepulang dari pelatihan.

“Kami mulai menerima pesanan untuk produk baru selain jilbab, seperti gamis, tunik syar’i dan piyama bahan rayon. Selain itu, saya juga memperbaiki pembagian tugas dengan istri dan memperbaiki manajemen keuangan usaha. Dulu, uang usaha jadi satu dengan uang keluarga. Apalagi, penjahit saya juga masih kerabat dan belum punya sistem penggajian yang jelas. Akhirnya, uang usaha kadang begitu diterima langsung habis karena dipakai untuk kebutuhan keluarga,” papar Masrukhin.

Sekarang kedua penjahit dibayar sesuai hasil jahitan yang diselesaikan. Masrukhin juga berusaha memanfaatkan perca kain sisa produksi gamis dan hijab untuk dijadikan masker dan pengait masker. “Ternyata ada juga peminatnya, walau belum seramai peminat produk yang lain,” kata Masrukhin.

Walau sempat terdampak pandemi dan usahanya sempat berhenti produksi pada Maret 2o2o, ia tidak menyerah. Sekarang ia mulai mencoba memperluas penjualan produknya lewat Facebook pribadi dan WhatsApp grup. “Setidaknya saat ini ada penjualan online sekitar 15 piyama setiap hari. Kebutuhan sehari-hari masih bisa tercukupi. Kami sudah membuat e-flyer untuk promosi produk online dan sudah pernah mendapatkan pembeli dari Kalimantan,” katanya optimis.

%d bloggers like this: