Select Page

Penulis: Rahma Wulandari

Trainer kontributor: Ricky Hermayanto

Helwana Fattoliya Rais, baru saja menemukan kembali semangatnya untuk berwirausaha. Di usia 53 tahun, ibu dari 7 anak asal Depok ini masih aktif berdakwah di majelis taklim dan membantu suaminya mengelola usaha keluarga, Harapan Jaya Rempah. Setelah usaha keluarganya mendapat musibah, mereka tetap berusaha mencari peluang. “Kebun vanili suami saya di Sumatera ludes oleh longsor. Satu karyawan kami wafat menjadi korban bencana ini. Saat pandemi, kami juga tidak bisa berkunjung ke daerah untuk mencari peluang usaha. Tapi, kami tetap menjalin komunikasi dengan petani di sana dan berdagang dengan harga yang wajar,” kisah Helwana.

Ia tidak mengira, kesempatan belajar Desember 2020 lalu di kelas Pembekalan Kewirausahaan Tahap Awal Perorangan dari BBPPK & PKK Lembang bisa membukakan begitu banyak ide dan perubahan untuk usaha keluarganya. Tadinya ia hadir untuk mewakili putrinya yang memiliki usaha produksi lauk kering. Ternyata, ia mendapati ilmunya justru sangat berguna untuk mengembangkan usaha rempah, Harapan Jaya Rempah yang sudah ia jalankan bersama suaminya.

Sebetulnya, suaminya sudah sangat paham tentang proses bisnis rempah dari hulu ke hilir dan sempat mengajarkannya pada Helwana. “Tapi, saya baru benar-benar paham dan belajar banyak hal, terutama tentang pencatatan keuangan dan manajemen usaha secara keseluruhan dari kelas di Lembang,” tutur Helwana.

Usaha ini ia rintis bersama suami dengan modal Rp40juta dan sudah balik modal. Helwana mengakui, sepulang dari pelatihan ia langsung membuka hubungan kembali dengan petani-petani di daerah seperti di Sidikalang, Sumatera Utara dan Sulawesi. Ia juga menjajal peluang kerja sama dengan pembeli dan pelanggan lama di Pasar Induk dan pasar-pasar tradisional. Bahkan, ia langsung memesan lada hitam, kapulaga, pala, kayu manis dan vanili. “Rempah tidak ada matinya. Apalagi, sekarang di masa pandemi makin banyak orang yang mencari rempah. Selama punya stok, usaha bisa tetap berjalan.”

“Di awal ikut pelatihan, saya sempat pesimis apakah bakal efektif. Tapi, ternyata manfaat pelatihan ini luar biasa. Bahkan, saya merekam pelajaran di kelas untuk saya dengarkan kembali dan menjalankan saran trainer. Saya sudah menerapkan manajemen produksi baru. Tadinya semua saya kerjakan sendiri dan waktu habis untuk mengurus usaha. Saya tidak bisa kembali ke kegiatan dakwah dan mencari peluang usaha lain. Sekarang saya memiliki dua orang staf produksi di gudang. Misalnya, mulai dari mengolah vanili basah, memotong vanili secara manual hingga mengemasnya dalam kemasan kecil kiloan. Sekali produksi vanili biasanya sekitar 50-100 kg,” kisah Helwana.

“Selain itu, saya telah menerapkan sistem penggajian untuk staf yang membantu proses produksi di rumah. Perhitungan harga pokok penjualan juga saya perbaiki. Ternyata dulu ada beberapa komponen biaya yang tidak saya hitung, dan alih-alih untung, ternyata saya malah merugi,” ujar Helwana sambil tergelak.

Ia juga membagikan ilmunya untuk mengembangkan usaha putrinya. “Usaha lauk kering masih berjalan dan dipasarkan ke perkantoran dengan memanfaatkan jejaring anak saya. Semangat untuk mengembangkan usaha keluarga kami semakin meningkat setelah saya ikut pelatihan ini.”