Cerita dari Lembang : Menyiasati Penjualan dengan Memperbaiki Kualitas Produksi Produk

Penulis: Rahma Wulandari

Trainer kontributor: Aditya Nova

Dengan tekad kuat, Nawawi, pembuat keripik tempe asal Sobang, Pandeglang merintis menjadi wirausaha. Usaha Keripik Kriuuk telah berjalan sejak awal 2020 dengan memanfaatkan area belakang rumahnya sebagai lokasi produksi. Dengan modal terbatas dan peralatan seadanya, berupa alat mesin press plastik, kompor, alat masak dan alat pengering, ia merintis usahanya meski masih berstatus karyawan di sebuah instansi. Sayangnya, ia kurang fokus mengelola produksi. “Kami hanya produksi tergantung ketersediaan bahan baku yang terjangkau, seperti harga pisang atau singkong yang lebih murah,” ujar Nawawi.

Kondisi pandemi membuatnya harus menjadikan usaha ini sebagai sumber penghasilan utama. Ia lalu mencari ide produk baru. “Di Sobang, kompetitor pembuat keripik tempe baru satu. Jadi, saya lebih percaya diri untuk fokus produksi keripik tempe saja. Setiap minggu kami produksi dua-tiga kali dengan jumlah rata-rata 10 kg, atau sekitar 30 kg per bulan.”

Tantangan di awal adalah perbedaan proses pengolahan tempe dengan keripik lain, seperti singkong atau ketela. Masa kedaluwarsa keripik tempe juga sangat pendek. Belum lagi, harga bahan baku kedelai yang naik turun kadang membuat Nawawi harus jeli mengatur ulang strategi penjualan. “Saat harga bahan baku naik, kami tidak mengurangi isi keripik dan tidak menaikkan harga, tapi menaikkan target sirkulasi penjualan,” ujar Nawawi yang memasarkan keripik tempenya ke warung-warung dan toko kecil di desanya.

Tahun 2020 lalu, Nawawi mendapatkan banyak pelajaran dari kelas Pembekalan Kewirausahaan Tahap Awal Perorangan dari BBPPK & PKK Lembang. Sebelum pelatihan, ia menyadari manajemen waktu produksi keripik sangat buruk. “Sekarang saya sudah menghitung waktu dari pengolahan sampai distribusi dan bisa menghitung jumlah produksi mingguan. Dari sisi produksi, saya juga sudah menyusun standar operasional produksi sederhana, mulai dari pengolahan bahan, resep pembuatan bumbu, hingga penggorengan. Dengan itu, kami bisa mencapai standar rasa keripik di tiap produksi,” kata Nawawi yang mengelola usaha ini berdua dengan temannya. Pemasaran keripik pisang dilakukan lewat kerja sama dengan canvasser di area Sobang, Pandeglang.

Ia menyediakan keripik tempe dalam tiga ukuran kemasan dengan harga Rp2000-Rp10.000 untuk konsumsi warga lokal. Dari pelatihan, ia sadar pentingnya tampilan kemasan. Dengan tambahan stiker label, ada kenaikan penjualan yang signifikan. “Meski harganya lebih tinggi sedikit, keripik tempe Kriuuk juga lebih dikenal dibandingkan dengan keripik tempe lain yang tanpa merek,” jelas Nawawi.

Nawawi juga bersikap terbuka pada kritik dan saran dari pembeli. “Setiap kali produksi tentu saja ada saja produk retur. Pembeli juga memberi masukan saat rasa keripik berbeda dari biasanya. Saya juga sering menguji produk ke pelanggan dan membandingkannya dengan produk kompetitor. Ternyata sebagian besar pembeli lebih suka rasa keripik tempe original yang gurih dan terasa pas untuk lidah warga lokal. Jadi, hingga saat ini kami masih bisa bertahan dengan keripik tempe original. Pasar kami pun lebih jelas dan berbeda dengan kompetitor.”

Tidak kalah penting, ia juga merapikan pencatatan keuangan seusai pelatihan. “Saya sudah memisahkan uang usaha dengan uang pribadi. Teman yang membantu proses produksi kini sudah digaji dengan sistem upah harian. Pendapatan diterima lewat bagi hasil dengan canvasser. Setelah rapi, barulah kelihatan pendapatan usaha yang sebenarnya,” kata Nawawi lega.

Comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *