Penulis: Rahma Wulandari

Trainer kontributor: Irma Nawangwulan

Tantangan hidup bagi Saidah, asal Desa Jatirejo, Mojokerto, seolah tak ada habisnya. Baru saja ditinggal wafat kedua orangtuanya, sang suami terkena serangan jantung. Jadilah, ia harus mengambil alih peran sebagai pencari nafkah utama untuk menghidupi tiga orang anak dan dua orang adiknya. Bahu-membahu bersama dengan adik dan anaknya, ia mulai membuka usaha. “Modal kedai murni saya dapatkan dari kelas kelas Pembekalan Kewirausahaan Tahap Awal Perorangan dari BBPPK & PKK Lembang,” tutur Saidah.

Sepulang dari pelatihan di Lembang, sang adik memberi ide untuk membuka kedai jus. Di sekitar rumahnya sudah ada yang berjualan makanan, seperti warung rujak, tapi kedai yang menyediakan jus buah segar masih berjarak cukup jauh. Jadilah, ia lalu membuka kedai kecil dengan menu jus buah segar dan makanan ringan seperti mi instan dan gorengan. Ia juga menyediakan televisi di kedai untuk menemani tamu. Selain itu, untuk menarik pembeli remaja, ia mencoba menu yang sedang tren, seperti minuman boba dan minuman dingin lainnya dan menyediakan fasilitas Wi-Fi gratis.

Tampilan kedainya juga ia rapikan menjadi kedai lesehan. Tembok ruangan didekorasi dan dicat ulang agar lebih bersih. Selain ditambah meja dan karpet, Saidah juga menyediakan bean bag agar pembeli lebih nyaman bersantai.

Sebelum pelatihan, sebetulnya cikal bakal kedai ini sudah ada. Saidah kerap menerima pesanan jus buah segar dari teman-temannya. “Dari pelatihan, saya belajar menentukan target penjualan. Ini juga memudahkan saya untuk menghitung kebutuhan belanja buah mingguan. Saya juga memperbaiki kemasan jus yang tadinya hanya menggunakan gelas plastik biasa, kini sudah ditambah stiker logo yang didesain oleh adik saya.”

Saidah juga menambah saluran penjualan lewat WhatsApp. “Saya menerima pesanan online dan memberikan gratis ongkos kirim jika jaraknya masih dalam satu desa. Ada saja yang pesan dari luar desa saya, walaupun tidak setiap hari.”

Sebelum pandemi, kedainya buka setiap hari hingga pukul 24.00, tapi sekarang hanya buka hingga pukul 22.00. Dulu di awal buka, setiap bulan penghasilan kedai Rp1-2 juta. Mau tidak mau, kini pendapatan dari kedai juga berkurang. “Di musim hujan, saya menambah menu dengan menyediakan minuman hangat seperti wedang uwuh dan kopi secang. Kebetulan saya punya kebun kecil di belakang rumah. Hasil kebun seperti sawo, avokad dan rambutan bisa dijual untuk menambah penghasilan. Walau terdampak pandemi, semoga saya bisa terus menjaga semangat untuk menjalankan usaha demi keluarga,” kata Saidah.

%d bloggers like this: